Jangan Bugil di Depan Kamera!

Hi teman ada kabar ni…sebenarnya ini kabar dah lama tapi baru putri angkat…..

Kecantikan atau keindahan tubuh adalah anugrah Tuhan YME yang wajib kita syukuri. Seiring perkembangan technologi semakin canggih seperti Handphone, Camera juga Internet, kadang temen-temen sengaja iseng atau tidak sengaja bahkan bangga dengan kecantikan, keseksianya ngambil gambar atau menfoto dirinya sendiri untuk ditaruh di HP atau Internet seperti di Blog, friendster juga facebook atau mungkin temen pernah sengaja foto bugil untuk koleksi pribadi…ingat …..HATI-HATI….. sebelumnya harus temen-temen pikirkan……….

  • Foto anda yang telah di upload di internet dimanipulasi oleh orang yang gak bertanggung jawab, misal tubuh anda yang sebelumnya pakai baju di ganti dengan tubuh model telanjang atau sebaliknya wajah anda di taruh di model yang telanjang. Apakah itu mungkin…? mungkin saja karena dengan software pengolah foto semacam Photopain, Paintshop, Photoshop dan sejenisnya itu sangat mudah membuat manipulasi gambar.

  • Anda perlu ketahui juga, gambar foto-foto atau video yang anda simpan di handphone, memori card, usb flah atau media lainya meskipun sudah dihapus berulang kali bisa dimunculkan lagi, karena di internet tersedia software (seperti Recavery Manager) untuk mengembalikan file yang telah dihapus. Jadi bila anda pernah menyimpan foto atau video anda di salah satu media yang saya sebutkan diatas hati-hati kalo bawa camera atau hp anda ke counter atau service center biasanya mereka mempunyai software tersebut lebih baik minta memori card anda. jika hp anda jual jangan disertakan lebih baik patahkan memorinya dan buang….aman selamanya

Beberapa tahun lalu sekumpulan anak muda mengkampanyekan gerakan ANAK MUDA INDONESIA: JANGAN BUGIL DI DEPAN KAMERA! Gerakan ini dimulai pada bulan Januari 2007, di sebuah acara diskusi bersama mahasiswa FISIKOM UPN Jogjakarta. Embrio gerakan ini berusaha menyebarkan pesan untuk tidak terjebak dalam arus pornografi.

Kampanye ini digalang atas dasar keprihatinan berbagai pihak soal maraknya penyalahgunaan perangkat telekomunikasi seperti HP yang memiliki fasilitas perekam video. Perkembangan teknologi kamera ponsel ternyata berefek buruk. 500 lebih cuplikan film porno dibuat para pelakunya atas dasar senang-senang, tidak sengaja dan sebagian dijadikan alat kejahatan (rekaman perkosaan, penistaan, pelecehan).

Persentase para pelakunya pun cukup mencengangkan. 90% adegan cuplikan film porno dilakukan oleh anak muda SMA dan Mahasiswa. 8%nya berasal dari rekaman prostitusi, para pejabat negara dan pemerintah (DPR dan Pegawai Negeri). 2%nya adalah cuplikan kamera pengintai yang mengambil gambar para wanita-wanita muda yang sedang bugil tanpa sadar di toilet ataupun di kamar hotel. Demikian disampaikan Sony Set, penulis buku dan praktisi pertelevisian di sela-sela jumpa pers untuk acara bedah bukunya yang berjudul ‘500 Plus, Gelombang Video Porno Indonesia” terbitan penerbit Andi di Jogja Medianet, minggu tanggal 26 Agustus 2007.

Untuk itulah, gerakan ini dikhususkan bagi anak muda. Gerakan ini pula telah menyediakan semacam crisis center bagi mereka yang merasa menjadi korban. Tentu sangat tidak mudah mengajak kaum muda yang darahnya masih panas ini untuk berhenti melakukan eksperimen ‘bergaya bokep’. Langkah awal dari gerakan ini adalah bersama-sama melakukan janji bersama, sumpah bersama untuk tidak bugil di depan kamera.

Sangat sulit untuk menghentikan atau mengurangi peredaran film-film porno amatiran itu hanya dengan melakukan janji atau sumpah bersama. Namun bisa jadi ini merupakan gerakan moral yang patut didukung dan di-follow up oleh berbagai pihak. Mengajak teman dekat, sahabat, saudara, atau siapapun untuk berjanji agar tidak bugil di depan kamera bisa jadi merupakan salah satu alternatif yang patut kita coba.

Sumber: http://www.detikinet.com/, http://www.janganbugildepankamera.org/

Sumber gambar: http://www.janganbugildepankamera.org/
Back to Index Post

Advertisements

40 Persen Remaja pernah bercinta

40 Persen Remaja Free Sex
Berdasarkan Data PKBI Bali di Denpasar

DENPASAR– Ini bisa menjadi peringatan bagi para orang tua untuk selalu memperhatikan pergaulan putra-putrinya yang sedang menanjak remaja. Khususnya para orang tua yang berdomisili di Denpasar. Ini menyusul fakta yang mengagetkan datang dari Kisara Pusat Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali.

Lembaga yang intens di bidang pergaulan remaja ini baru saja merampungkan survei terkaitfree sexatau seks bebas. Salah satu wilayah yang dijadikan tempat survei adalah Denpasar. Dan hasilnya, sebanyak 40,6 persen remaja di Denpasar pernah melakukan hubungan seks bersama temannya. Dan, hampir sebagian besar hal itu dilakukan oleh para siswa yang duduk di bangku SMP dan SMA.

“Celakanyanya, dari prosentase tersebut, remaja yang menggunakan alat kontrasepsi seperti kondom hanya 20 persen saja,” beber Koordinator Kisara PKBI Bali dr. Nyoman Sutarsa, S.Ked dalam acara Refleksi Program Rumah Remaja yang berlangsung Jumat (19/6) sore.

Yang mengejutkan lagi, angka tersebut dipastikan bakal bertambah. Karena ada dua wilayah yang belum selesai proses tabulasinya. Yakni Badung dan Gianyar.

Selain itu, fakta lainnya yang berhasil dihimpun lewat survei tersebut menyebutkan 10 persen dari remaja di Bali menikah pada usia 15-19 tahun. Hal itu berada jauh di bawah angka nasional yang ditetapkan 21,7 tahun.

Tak sampai di situ. Akibat pernikahan dini, angka kematian ibu saat melahirkan ikut meningkat. Karena wanita remaja yang menikah pada kisaran umur 15-19 tahun memiliki potensi 2-4 kali meninggal. Belum lagi angka aborsi yang mencapai 2,3 juta. Dan, 30 persennya terjadi pada usia remaja.

Sutarsa mengatakan, tingkah laku para remaja di Denpasar yang super bebas tersebut lebih disebabkan oleh perubahan sosial yang terjadi di sekitar lingkungan mereka.

“Selama ini remaja hanya divonis sebagai pelaku. Mereka sangat jarang dilihat sebagai korban. Entah itu perubahan era, kemiskinan informasi, pengaburan esensi, korban mitos, dan juga korban kapitalisme,” jelas Sutarsa ketika membuka acara.

Selain membeberkan fakta seperti itu, survei di Denpasar, Badung, dan Gianyar juga menegaskan bahwa keberadaan klinik remaja semakin diperlukan. Selain itu, pendidikan mengenai kesehatan reproduksi dalam bentuk kurikulum wajib menjadi sebuah kebutuhan bagi para remaja yang selama ini masih dibutakan oleh mitos. Dan hal ini dibuktikan dengan persepsi para remaja yang menilai bahwa membeli kondom merupakan suatu hal yang memalukan. Dari hasil survei, persepsi ini mencapai 69,33 persen.

“Sejauh ini pendidikan kesehatan reproduksi hanya terintegrasi pada salah satu mata pelajaran tertentu saja. Padahal dari hasil survei menunjukkan bahwa 52 persen dari para remaja setuju kalau pendidikan itu dimasukkan dalam kurikulum wajib,” imbuh Sutarsa.

Lantaran berbagai fakta tersebut, menurut Sutarsa, Rumah Remaja didirikan oleh Kisara PKBI Bali. Dengan tujuan, bisa membentuk karakter remaja yang bertanggung jawab, sehat jasmani rohani, sehat sosial, kreatif, dan inovatif. “Yang pasti, kehadiran rumah remaja ini untuk memberikan kebutuhan remaja mengenai informasi yang benar terkait reproduksi,” tandasnya.(hai)

Back to Indext Post