40 Persen Remaja pernah bercinta

40 Persen Remaja Free Sex
Berdasarkan Data PKBI Bali di Denpasar

DENPASAR– Ini bisa menjadi peringatan bagi para orang tua untuk selalu memperhatikan pergaulan putra-putrinya yang sedang menanjak remaja. Khususnya para orang tua yang berdomisili di Denpasar. Ini menyusul fakta yang mengagetkan datang dari Kisara Pusat Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali.

Lembaga yang intens di bidang pergaulan remaja ini baru saja merampungkan survei terkaitfree sexatau seks bebas. Salah satu wilayah yang dijadikan tempat survei adalah Denpasar. Dan hasilnya, sebanyak 40,6 persen remaja di Denpasar pernah melakukan hubungan seks bersama temannya. Dan, hampir sebagian besar hal itu dilakukan oleh para siswa yang duduk di bangku SMP dan SMA.

“Celakanyanya, dari prosentase tersebut, remaja yang menggunakan alat kontrasepsi seperti kondom hanya 20 persen saja,” beber Koordinator Kisara PKBI Bali dr. Nyoman Sutarsa, S.Ked dalam acara Refleksi Program Rumah Remaja yang berlangsung Jumat (19/6) sore.

Yang mengejutkan lagi, angka tersebut dipastikan bakal bertambah. Karena ada dua wilayah yang belum selesai proses tabulasinya. Yakni Badung dan Gianyar.

Selain itu, fakta lainnya yang berhasil dihimpun lewat survei tersebut menyebutkan 10 persen dari remaja di Bali menikah pada usia 15-19 tahun. Hal itu berada jauh di bawah angka nasional yang ditetapkan 21,7 tahun.

Tak sampai di situ. Akibat pernikahan dini, angka kematian ibu saat melahirkan ikut meningkat. Karena wanita remaja yang menikah pada kisaran umur 15-19 tahun memiliki potensi 2-4 kali meninggal. Belum lagi angka aborsi yang mencapai 2,3 juta. Dan, 30 persennya terjadi pada usia remaja.

Sutarsa mengatakan, tingkah laku para remaja di Denpasar yang super bebas tersebut lebih disebabkan oleh perubahan sosial yang terjadi di sekitar lingkungan mereka.

“Selama ini remaja hanya divonis sebagai pelaku. Mereka sangat jarang dilihat sebagai korban. Entah itu perubahan era, kemiskinan informasi, pengaburan esensi, korban mitos, dan juga korban kapitalisme,” jelas Sutarsa ketika membuka acara.

Selain membeberkan fakta seperti itu, survei di Denpasar, Badung, dan Gianyar juga menegaskan bahwa keberadaan klinik remaja semakin diperlukan. Selain itu, pendidikan mengenai kesehatan reproduksi dalam bentuk kurikulum wajib menjadi sebuah kebutuhan bagi para remaja yang selama ini masih dibutakan oleh mitos. Dan hal ini dibuktikan dengan persepsi para remaja yang menilai bahwa membeli kondom merupakan suatu hal yang memalukan. Dari hasil survei, persepsi ini mencapai 69,33 persen.

“Sejauh ini pendidikan kesehatan reproduksi hanya terintegrasi pada salah satu mata pelajaran tertentu saja. Padahal dari hasil survei menunjukkan bahwa 52 persen dari para remaja setuju kalau pendidikan itu dimasukkan dalam kurikulum wajib,” imbuh Sutarsa.

Lantaran berbagai fakta tersebut, menurut Sutarsa, Rumah Remaja didirikan oleh Kisara PKBI Bali. Dengan tujuan, bisa membentuk karakter remaja yang bertanggung jawab, sehat jasmani rohani, sehat sosial, kreatif, dan inovatif. “Yang pasti, kehadiran rumah remaja ini untuk memberikan kebutuhan remaja mengenai informasi yang benar terkait reproduksi,” tandasnya.(hai)

Back to Indext Post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: