Facebook Haram? Iya Gitu?

`Facebook diharamkan`, demikian issue yang sedang berkembang di media-media cetak dan elektronik. Sebuah issue yang memicu pro dan kontra, karena ada pihak-pihak yang setuju dengan opini yang berkembang ini, ada juga yang enggak. Sebagian dari kamu, mungkin enggak setuju dengan fatwa haram facebook ini. Seperti pendapat dari temen-temen SMA Mutiara Bunda, Liliane, Afifah, Fauqia, dan Iqbal. Semuanya sepakat bahwa facebook itu enggak haram, yang membuatnya haram adalah penyalahgunaannya. Silahkan baca aja pendapat detail mereka di boks.

Gimana kalo kita telusuri dulu bagaimana berkembangnya issue bahwa Facebook diharamkan, sampai seperti yang sudah kamu dengar sekarang, bahwa facebook sudah difatwakan haram.

Dari referensi website MUI, Fatwa adalah sebuah keputusan atau nasihat resmi yang diambil oleh sebuah dewan mufti atau ulama. Nah, buat kehidupan beragama di Indonesia, Fatwa dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai suatu keputusan tentang persoalan ijtihadiyah yang terjadi di Indonesia guna dijadikan pegangan pelaksanaan ibadah umat Islam di Indonesia. Ijtihad sendiri adalah sebuah usaha untuk memutuskan sebuah perkara tidak dibahas atau kurang jelas dalam Al Quran maupun hadist. Nah, MUI adalah organisasi yang diakui secara luas untuk mengeluarkan fatwa. Namun, untuk mengeluarkan sebuah fatwa pun, MUI tentu melakukannya penuh pertimbangan, dan seringkali mengadakan sebuah musyawarah khusus sebelum memfatwakan sesuatu.

Nah, dari sejumlah issue yang sampai ke telinga belia, bahkan masuk ke account facebook, beredar kabar yang menyatakan kalau Majelis Ulama Indonesia, organisasi yang mewadahi para ulama di seluruh Indonesia telah mengeluarkan fatwa bahwa facebook itu sebagai sesuatu yang haram.

Nah, ini adalah kabar yang enggak tepat.

Ijtihad, utamanya dilakukan oleh para ulama yang memang memiliki pemahaman agama yang unggul dibandingkan masyarakat luas. Namun, fatwa enggak melulu dikeluarkan oleh MUI. Fatwa haram facebook yang belia dapet datanya, itu dikeluarkan oleh sejumlah ulama dari beberapa ponpes (pondok pesantren) di Jawa Timur. Dari data yang belia dapatkan, Forum Komunikasi Pondok Pesantren Putri (FMP3)-lah yang mengharamkan penggunaan facebook, itupun ada tapinya. Jika digunakan secara berlebihan dan tidak sesuai ajaran Islam, seperti dikutip dari artikel “Facebook-an Berlebihan Diharamkan Ponpes se Jawa-Madura”, dari situs berita detik surabaya. FMP3 dalam mengharamkan FB, lebih menekankan penyalahgunaannya dalam konteks mencari jodoh yang enggak sesuai dengan proses khitbah Islam.

Nah, itu yang bener. MUI so far sih enggak mengharamkan facebook. Pun, FMP3 yang mengeluarkan pernyataan FB haram, itu hanya pada konteks penggunaan FB tertentu.

Ketua MUI Kota Bandung, Prof. DR. H. Miftah Faridl juga menegaskan bahwa facebook tidak haram, namun penggunaannya untuk kemaksiatanlah yang membuatnya menjadi haram. “Bendanya sih netral-netral aja, bahkan bisa digunakan untuk silaturrahmi, jadi tergantung kepada orang yang menggunakannya,” tegas Pak Miftah. Wah, udah jelas deh, kalo FB itu enggak haram ya? “Buat saya, facebook itu banyak manfaatnya, bisa dijadikan tempat berdakwah. Namun, memang semuanya itu tergantung pada niat, proses, dan manfaat,” jelas Pak Miftah. “Kalau salah digunakannya dan membuat dosa, sudah tentu hukumnya haram,” tegas beliau.

Wallahualam sih apakah memang ada ulama yang mengharamkan facebook-nya ketimbang perbuatannya yang menyalahgunakannya. Bapak Onno W. Purbo, pengamat IT dan juga pemilik account FB enggak setuju banget kalo FB diharamkan. “Saya tidak melihat korelasi antara FB dengan media perkenalan yang tidak sesuai Islam di semua media pun, seperti mailing list, forum, amatir radio bisa tidak sesuai Islam kalau orangnya mau. Nah, apakah apakah media lain tersebut menjadi haram?” tanya beliau kepada belia secara retoris. Emang sih pendapat beliau bener. Tapi enggak bisa dipungkiri juga kalo sampe sekarang emang masih banyak yang menyahgunakan account FB. Kamu bisa mencari account-account yang menampilkan foto yang enggak senonoh atau menyampaikan informasi palsu. Nah, ternyata untuk para `pelanggar` ini, FB punya aturan yang ketat. “FB akan memblokir orang yang tidak senonoh, yang mengganggu orang lain, yang pasang gambar porno, dll.” tukas Pak Onno. Hal ini menjelaskan bahwa FB sendiri udah punya mekanisme filter untuk meminimalisir para pelanggar tersebut.

Pak Iwan Hermawan, guru SMAN 9 Bandung juga punya pendapat yang sama. “Saya rasa, kembali lagi kepada orangnya lah. Kalo emang digunakan untuk yang enggak bener, maka akan jadi enggak bener,” ucapnya. Namun, Pak Iwan menegaskan bahwa perbuatan apapun, benda apapun akan menjadi baik jika digunakan untuk kebaikan dan begitu juga sebaliknya. “Ya kita lihat internet secara umum. Kalau digunakan untuk menambah ilmu, atau menambah jaringan pertemanan lewat FB misalnya, saya rasa itu adalah hal yang baik. Tapi, kalo digunakan untuk ngebuka situs-situs porno, nah itu baru salah” jelasnya. Pak Iwan sendiri, bahkan menggunakan FB sebagai media komunikasi dengan anak-anak didiknya. “Bahkan, ada rekan saya guru agama, melakukan dakwah dengan menggunakan FB. Nah, haram dari mana tuh?” ujarnya.

Namun, Pak Iwan ingin mengingatkan bahwa fesbukan juga enggak boleh sampe lupa pada kewajiban dan aktivitas sehari-hari. “Ya kalau gara-gara fesbukan jadi lupa belajar bahkan lupa salat, ya itu sih salah,” menurut Pak Iwan. Pak Miftah Faridl juga menegaskan, bahwa berlama-lama melakukan pekerjaan yang sia-sia adalah sesuatu yang tidak baik. “Apak itu facebook, chatting, atau main game, baiknya secukupnya saja. Jangan berlama-lama melakukan perbuatan yang sia-sia, karena hal tersebut termasuk memubazirkan waktu,” ungkap Pak Miftah.

Nah, kalo kita bicara pada konteks yang lebih luas, larangan menggunakan internet misalnya, karena ada kekhawtiran Belia mengakses situs-situs yang enggak `beres`, Pak Miftah Faridl merasa bahwa hal tersebut adalah PR bagi semua orang, terutama orang tua. “Kita enggak bisa membendung teknologi modern. Solusinya bukanlah mengharamkannya, namun membimbing dan memberi pendidikan yang baik agar Belia punya filter dari dalam diri,” jelas Pak Miftah. Nah, itu adalah peran yang harus dimainkan oleh kamu, orang tua, dan juga guru untuk memberikan bimbingan dan pendidikan yang baik dan benar. Jadinya, kamu bisa ngerem sendiri sebelum mencoba untuk ngakses situs-situs `enggak beres` atau menggunakan FB untuk hal-hal yang enggak bener.

Mengenai apakah memang ada ulama yang mengharamkan benda atau si makhluk yang bernama facebook, memang pemberitaannya masih simpang siur. Kalaupun memang ada yang mengharamkan, kita boleh sepakat bahwa pendapat tersebut adalah sesuatu yang mungkin kurang tepat.

Namun, bukan berarti kamu bisa sebebas-bebasnya menggunakan FB. Inget ya, jangan lupa waktu dan jangan menggunakannya untuk hal-hal yang tidak baik. Apakah mencari temen atau bahkan cari temen di FB itu jadi sesuatu yang baik atau enggak, silahkan kamu pertimbangkan sendiri dengan pengetahuan dan wawasan agama kamu. belia yakin, kamu bisa bikin keputusan yang terbaik. Wallahualaam.***
Sumber

Back to Index post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: