Miyabi Sayang, Miyabi Malang

miyabiSungguh di luar dugaan, kedatangan artis ”panas” asal Jepang, Maria Ozawa alias Miyabi, menuai protes keras dari sejumlah masyarakat. Mereka menganggap kedatangan Miyabi untuk bermain film Menculik Miyabi di negeri ini dapat mencoreng harga diri dan menodai moralitas generasi bangsa. Namun, penolakan terhadap Miyabi itu justru terkesan kontradiktif dan sangat menggelitik secara sosiologis.

Betapa tidak, penolakan dan protes keras tersebut hanya tertuju kepada subjeknya, namun bukan kepada kultur dan karyanya. Meski Miyabi tidak jadi bermain film di negeri ini, film panas Miyabi bisa dinikmati langsung oleh masyarakat Indonesia. Pertanyaannya, apa yang pantas ditolak? Apa yang harus kita perjuangkan?

Jika orientasinya adalah menegakkan moralitas dan harga diri bangsa, aksi penolakan terhadap artis ”panas” itu tentu tak akan banyak membantu dan menyelesaikan persoalan. Sebab, persoalan moral dan harga diri bangsa bukan terletak pada person, tapi pada kultur kolektif yang telah terstruktur dan berurat berakar dalam kehidupan sosial. Kalau tidak percaya, cobalah sesekali pergi ke pasar dan penjaja kaset pinggir jalan. Maka, sangat mudah mendapatkan kepingan VCD porno bajakan dengan harga murah. Bahkan, kalau ingin VCD porno orisinal, Anda bisa pergi ke toko-toko kaset di pusat perbelanjaan modern.

Hasil riset kawan-kawan Fordis di Unesa Surabaya menunjukkan, sekitar 60 persen remaja (usia sekolah menengah) sering melakukan ”hubungan intim” dengan pasangannya. Mulai kissing, petting, hingga making love (koitus). Sekarang permasalahannya, dari manakah mereka mengimitasi dan belajar praktik seksualitas itu? Jawabnya, dari film-film porno yang beredar luas di pasaran. Sungguh ironis.

Kehidupan modernistik yang liberal seperti saat ini memang berpotensi mengoyak tatanan moralitas dan tradisi kemasyarakatan yang telah ada. Ini dipicu merebaknya ideologi hypermoral, turbulensi wacana, dan tumpulnya intuisi keyakinan. Kehadiran era pencerahan yang berakibat lahirnya peradaban modern itu menempatkan rasionalitas di atas segala-galanya. Semua aktivitas manusia harus memiliki sandaran rasionalitas, bukan semata-mata hasrat personal yang tidak jelas ujungnya. Kebebasan manusia menjadi halal asalkan memiliki rasionalitas yang bisa diterima akal sehat.

Kuasa rasionalitas itu yang kemudian merambah ke dimensi teologis masyarakat sebagai sumber fundamental moralitas. Secara sosiologis, agama memainkan peran penting untuk mengekang sifat alamiah manusia yang liar, binal, bejat, kejam, serta sadis. Agama dalam perspektif Freud menjadi sarana pengekang id personal yang penuh dengan pembangkangan.

Tetapi, kehadiran kuasa rasionalitas membuat posisi agama bergeser ke ranah identitas sosial. Agama cenderung dijadikan status sosial yang sifatnya simbolis semata. Tak sedikit masyarakat kekinian yang mulai enggan membawa ajaran agama ketika dihadapkan kepada persoalan hasrat dan libidalnya. Misalnya, mereka tidak ingin dicap binal dan mengumbar aurat ketika berpakaian transparan atau berciuman di depan publik. Apa yang mereka lakukan itu hanyalah dianggap sebagai gaya hidup dan mengikuti tren alias gaul.

Ironisnya, mereka yang masih berpegang teguh kepada moralitas pergaulan ternyata dianggap katrok, ndeso, dan jadul. Akibatnya, muncul kesadaran kolektif yang ”sesat” di kalangan anak muda bahwa jangan sampai ketinggalan suatu hal yang berbau budaya pop masa kini. Mereka yang meniru gaya hidup orang Barat akan mendapatkan apresiasi.

Kehilangan Filterisasi

Kondisi itu kemudian berlawanan dengan struktur moral dan budaya kesopanan yang telah berdiri kukuh sejak dahulu. Struktur moral yang cenderung kaku dan rigid tersebut dianggap pantas diberlakukan kepada generasi tua yang kolot dan tidak mau menerima dinamika perubahan di masa global ini. Akibatnya, kaum muda sekarang kehilangan filterisasi terhadap budaya asing yang bebas masuk ke negeri ini.

Kultur pop yang liberal seperti itulah yang dulu pernah dikhawatirkan Bapak Proklamator kita, Bung Karno. Maka, tak heran ketika beliau menduduki jabatan presiden di negeri ini, segala budaya asing dan berbau ”kebarat-baratan” yang cenderung liberal dan tidak mengadopsi tradisi ketimuran dibatasi ruang geraknya. Bung Karno pernah berujar bahwa caracter building bangsa bukan ada di Barat, melainkan ada di Timur, di negeri kita sendiri.

Lunturnya moralitas dan tradisi lokal yang menempa negeri ini juga dialami bangsa lain. Seperti yang ditulis NoreeĀ­na Herzt (2005) di dalam bukunya The Silent Take Over. Dahulu kala, Kerajaan Bhutan (terletak di antara India dan Tibet) memiliki masyarakat yang sangat kukuh menjaga tradisi kesopan-santunan dan tatakrama. Waktu itu, tidak ada yang namanya pemerkosaan, prostitusi, apalagi praktik seksualitas di hadapan publik. Setiap orang asing yang masuk ke negara Bhutan harus mengikuti tradisi tersebut.

Ironisnya, sejak masuknya televisi yang diimpor dari Amerika, masyarakat Bhutan mulai menentang tradisi itu. Pemerkosaan dan prostitusi mulai merebak di sana. Tokoh masyarakat pun menilai bahwa kapitalis-global yang ada di balik televisi tersebut adalah sumber malapetaka. Karena itu, rakyat Bhutan diwajibkan berdoa melawan kuasa kapitalisme-global tersebut. Anehnya, ketika berdoa di biara, rakyat Bhutan justru mengenakan kaus bergambar Britney Spear, Space Girl, dan Madonna yang sangat vulgar dan sensual. (*)

*) Ardhie Raditya, Sosiolog dari FIS Universitas Negeri Surabaya (Unesa

Back to Index post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: